Postingan

Ketika Aku Memilih Merelakan daripada Menyerah

  Aku harap dengan tulisan ini kamu bisa mengerti mengapa sampai di sini aku masih ada di sampingmu, mengerti tentang alasan-alasanku tak pergi. Aku tak tau apakah kamu bisa menerima alasan ini atau tidak, tapi aku hanya ingin memberitahumu jika aku masih mencintaimu dan masih ingin memperjuangkanmu. Kepada Tania Safira. Akan kuberitahu kau satu hal yang mungkin akan merubah aku sepenuhnya di kemudian hari. Merubah laki-laki bodoh yang dengan naifnya selalu jatuh pada lubang yang sama. Kalau ditanya laki-laki macam apa yang tak bisa diandalkan, laki-laki macam aku mungkin jawaban yang tepat. Setelah sekian lama hal-hal itu terjadi berulang kali dan kau memintaku untuk berhenti, aku tak habis-habis berpikir dengan apa yang nantinya akan jadi keputusanku. Ya, aku tak mau berhenti atau dalam kata lain menyerah. Selemah-lemahnya lelaki, dia tidak akan pernah menyerah memperjuangkan apa yang ia cinta untuk jadi miliknya sebelum memang benar-benar kesempatan yang ada itu nol. Aku hanya b

Cerpen "Darah Daging" | Medan Pos

Darah Daging Terbit pada 2 Februari 2020 Menyepi suasana rumah itu sekarang, setelah ditinggal salah satu penghuninya. Rumah sederhana itu kini cuma ada 2 manusia berteduh disana. Seorang anak laki-laki dengan ibunya. Siang itu terdengar suara seorang anak laki-laki masuk kerumah itu dan memanggil – manggil ibunya “Ibu... Ibu... Ibu...” sembari menangis tersedu – sedu. “Ada apa nak? Mengapa kau menangis?”   Maisaroh kaget melihat putranya masuk rumah sambil menangis. “Apakah semua orang di komplek rumah kita sudah lupa dengan namaku? Sehingga mereka memanggilku Topik , itu kan nama ayah,” ujar Ardan dengan nada kebingungan, masih sambil menangis. Dengan santai Maisaroh menjawab pertanyaan anaknya “Jadi hanya karena itu jagoan ibu menangis, lalu apakah kau mau tau mengapa mereka memanggilmu dengan nama almarhum ayahmu?” Ardan tidak menjawab, dia hanya menganggukan kepala dengan masih diiringi senggukan. Kemudian Maisaroh berjalan meninggalkan Ardan, menuju sebuah kamar

Puisi Imam Khoironi | Radar Tasikmalaya

Gambar
Selamat Hari Puisi Nasional Mari Berpuisi Untuk Indonesia yang Lebih bersemi #Dirumahaja #Bacapuisi #Bersastrauntuknegeri     Di Dapur Matahari belum gegap, ufuk timur masih senyap. Pagi masih berhutang dengan malam, Ia melunasinya kali ini Tapi kulihat di dapur, cahaya dari sudut lain semarak. Cahaya dari api di tungku penghidupan Suara wajan yang beradu dengan pedang, menggiring anak-anak ayam mewarta, pada induk mereka Namun, sebelum kayu bakar benar-benar menjelma bara Sebelum asap diserap daun-daun pagi Sebelum air di dalam panci, bergemuruh Sebelum seluruh batu bata di dapur, menghitam Sebelum aku mengerang karena maag, Suara Ibu sudah masak di daun telinga mendoa buatku, membangunkanku Candipuro, 26 Maret 2019 Lekang Aku akan terima segala ucapan Bermula saat kedatangan Hingga akhirnya bertemu selamat tinggal, Selamat jalan dan sampai jumpa. Pada setiap jumpa, kita akan mencari Waktu untuk berpulang Meski satu d

Insomnia: Jarak

Perihal Jarak yang semoga tidak mengubah apapun di antara kita/ Aku belum bisa tidur, aku belum siap untuk terlelap dan membayangkan dirimu dalam mimpiku. Aku belum siap menjalani jarak ini, bahkan mendengar kata jarak ingatanku kembali pada patah dan tangis.  Hujan deras tiba-tiba turun mengiringi hujan di pipiku setelah lambaian yang terakhir kali aku lihat siang itu, April. Aku percaya jika pertemuan itu akan terulang di tempat kau pergi, atau di tempat yang kau jadikan tujuan pergimu. Apa arti perpisahan sebenarnya? Aku harap bukan patah, tapi sebaliknya. Karena jarak memaksa kita percaya, percaya menuntut kita merindu, merindu menjerumuskan lafal doa ke tenggorokan masing-masing. Sederhananya begitu, tapi aku tak suka. Aku tak suka karena jarak kadang melemparku ke ruang hampa. Ruang tanpa kehangatan, tanpa keindahan. yang dipenuh sesaki dengan kerinduan. Apakah arti jarak sebernarnya? Aku harap bukan selisih, justru sebaliknya. Sama rasa, sama tujuan. "Hai

Puisi Imam Khoironi | Bali Pos

Sumpah Seorang Pemuda Kepada Ibunya Ibu. Aku bersumpah demi yang lebih tinggi Dari bendera dan   apa saja Tanahmu, akan kujadikan tempat kuburku Meredam panas darahku Ibu. Aku bersumpah demi penguasa kehendak Dan kehendak itu sendiri Nasibku biar jadi misteri Semoga menjadi jati diri Ibu. Aku bersumpah demi penyair paling merdeka Dan paling berkuasa di jaga raya Puisi ini kutulis tanpa bahasa apa-apa Kecuali ini bahasamu, Ibu. Way Halim, 28 Oktober 2019 Menggambar Pohon Bagi kami: Yang membalut napas dengan debu kering tanah lapang Retak dan merekah seperti bunga di pertengahan musim semi Serta tidak lupa mengantar doa menuju langit melalui lampion-lampion Juga mantra-mantra yang tak lagi kudus Mencari jalan setapak untuk menemui roh Yang coba menembus langit membincangkan Pengadilan dunia pada Tuhan Ketahuilah: Akar-akar rumput sudah menembus batu Dan pohon dengan daun-daun hijau hanya ada Pada buku mewarnai anak

Denting Jam Dinding | Sebuah Antologi Puisi Penuh Gejolak

Menunggangi Waktu Untuk Menulis Kisah. Assalamualaikum wr. wb.  Apa kabar para pembaca dunia kata? Semoga semua sehat ya. Tidak bosan-bosannya kita saling mengingatkan untuk terus stay at home, work from home, and learn from home. Tentu membosankan bukan? Ya, itu juga saya rasakan, tapi itulah cara agar kita bisa terhindar dari wabah yang sedang melanda.  Oke, kita masuk ke pembahasan hari ini. kali ini saya akan mengulas buku karya saya sendiri yang berjudul Denting Jam Dinding. Buku ini merupakan buku pertama saya dalam 3 tahun karir menulis saya yang telah saya mulai sejak 2017 ketika pertama kali belajar menulis.  Buku ini terdiri dari 56 puisi yang ditulis dari tahun 2017 sampai 2018. Ada 11 puisi yang saya tulis di tahun 2017, di antaranya : Likuan Hati, Sebuah Sajak Peraduan, Akulah Pujangga, Langit Berpeluh Menopang Sejuknya Awan, Sajak Musim Kemarau, Detik Kehampaan, Sendu 1, Sendu 2, Di Atas Tanah Surga, Di Atas Kaki Senjamu. Dari lebih dari 30-an puisi bertahunkan 2017

Puisi Imam Khoironi | Medan Pos

Sebuah Kesaksian Aku tak punya sejarah ataupun budaya Untuk bisa aku catat Dan kutulis kembali sebagai puisi Tak seperti para penyair di luaran Aku terdampar di negeri sendiri Negeri kopi Aku orang asing di negeri asing Yang kutinggali bersama ribuan diksi Bahasa lain, Lampung, Juni 2019 Aku Hanya Ingin Menulis Aku hendak menulis puisi Puisi tentang kesendirian Dan sepi yang menjelma sebagai kenyamanan Aku mau merangkai sajak Tanpa rajut atau sulaman Benang dan jarum dalam gelas yang retak Aku hanya ingin menulis puisi Tentang sepi yang menjadi sekat sekat yang menjadi jarak jarak yang menjadi rindu aku hanya ingin menulis puisi tentang dirimu Lampung, Juni 2019 Kuatren Fana Ada yang hilang dan meninggalkan jejak-jejak kegundahan Ada yang pulang dan memboyong segala isi di lemari Ada yang pergi dan membawa serta kerinduan dan sakit hati Ada yang datang dan mengisi waktu, mengiringi selam namun tak abadi L